♠ terlahir dari rahim imajinasi yang frustasi,
♠ teracuni belerang-belerang rindu,
♠ tewas di belantara aksara sebab gagal menembus media ...

Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

[Pesta Pindahan Pelikan]



Di pedalaman Kalimantan, ada sebuah hutan yang luasnya sepuluh kali lebar bandara. Pohon-pohonnya sangat tinggi bagai mencakar awan, lebat, dan rindang. Di atas sebuah pohon yang paling tinggi, hiduplah seekor burung pelikan kecil. Kau tahu, pelikan tidak seharusnya hidup di Indonesia, apalagi pedalaman Kalimantan. Tetapi, perpindahan burung-burung dari belahan dunia bagian barat terlalu berat baginya. Ia terjatuh, dan akhirnya bertahan hidup di sana.
Hari ini, dia merayakan ulang tahun perpindahannya yang ke-tiga. Wow, betapa serunya saat dia terbang mengelilingi hutan dengan paruh besar penuh kartu undangan.
“Kau akan datang kan, Paman Orangutan?” Ia terbang setelah memberikan kartu undangan pada orangutan di sebuah dahan besar.
“Tentu, jika akan ada banyak pisang!” jawabnya girang.
“Hey, sempatkan dirimu untuk Senin malam yang membahagiakan, Kawan Kutilang!” serunya pada gerombolan kutilang di dahan cemara. Mereka mengangguk dengan cicitan gembira.
“Ah, Bibi Kancil, kamu memakai bando rumput yang indah. Maukah kamu memakainya saat datang ke rumahku nanti?”
“Tupai, kamu pasti suka kacangku!”
“Rusa cantik, pastikan kamu sudah menemukan gaun yang cocok untuk nanti malam!”
“Datang ya, Kakek Siput!”
“Ah, sepupu Laba-laba! Kartu undangan terakhir ini untukmu!”
Begitulah. Pelikan terbang ke sana ke mari menyebar undangan ulangtahun pindahannya ke Indonesia. Setelah habis, ia kembali ke pohonnya. Sekarang ia mulai menghitung kue, keripik, apel, pisang, kacang, dan mentimun yang sudah ia persiapkan. Ia berpikir akan mengadakan pesta yang meriah, dan siapapun boleh mengambilnya. Tetapi terbersit di pikirannya, tidak semua teman-temannya bisa makan sesuai yang diinginkan. Kakek Siput tentu tidak akan kebagian kue jika Tupai dan Kancil makan dengan sangat cepat.
Lalu ia mulai memikirkan untuk membagi semua makanan itu sama rata. Ia punya 700 kue, 500 keripik, 49 apel, 35 pisang, 14 mentimun, dan 175 kacang. Ia harus membagi semuanya agar masing-masing mendapatkan sama banyak.
“Kawanku yang akan hadir lumayan banyak. Siput, kutilang, tupai, laba-laba, orangutan, kancil, rusa … waah tujuh!”
Benar, Pelikan mengundang tujuh teman. Lalu berapa buah yang didapatkan masing-masing? Ia membuat semacam pembagian seperti permainan Congklak (dakon). Ia membuat tujuh balok sebagai simbol tujuh temannya. Lalu mulai membagi mentimun, pisang, dan apel.
   
Akhirnya masing-masing kotak itu terisi dengan 2 mentimun, 5 pisang, dan 7 apel. Tetapi pelikan tidak bisa menggunakan cara ini untuk membagi kacang, terlalu banyak. Ia ingat pernah diajari seorang katak ahli matematika di Rusia; porogapit. Seperti ini:
√(7&175)
Maka pertama, pelikan harus membagi dua angka terdepan (17) dengan angka 7. Dapat hasil 2, sisa 3. Kemudian angka 5 turun di samping angka 3 menjadi angka 35. Lalu dibagi 7 hasilnya 5. Dua angka hasil disandingkan jadinya 25!
Tetapi cara ini terlalu sulit jika dipakai untuk membagi kue dan keripik yang jumlahnya terlalu besar. Rencananya, kue dan keripik ini akan dibagi kepada penghuni hutan sebanyak-banyaknya tapi dengan jumlah yang sama. Tetapi pelikan bingung bagaimana membaginya. Sebuah idepun datang. Dia membuat pohon faktor! Pohon ini menggunaka angka utama sebagai pucuknya, dan angka-angka faktor sebagai cabangnya.
Angka 700 dibagi dengan 2 hasil 350, dibagi 2 lagi hasil 175, dibagi 5 hasil 35, dibagi 5 lagi hasil 7. Kemudian angka-angka faktor tersebut dikumpulkan, 2^2, 5^2, 7.
Sementara untuk keripik, 500 dibagi 2 hasil 250, dibagi 2 hasil 125, dibagi 5 hasil 25, dibagi 5 hasil 5. Faktor-faktornya dikumpulkan: 2^2, dan 5^3.
Kedua kumpulan faktor tersebut dicari faktor-faktor persekutuannya, ketemu 2^2 dan 5^2. 4X25=100. Jadi, kue dan keripik tersebut bisa dibagi kepada 100 orang.
Kini pelikan sudah mempunyai jumlah penghuni hutan yang akan mendapatkan kue dan keripiknya. Tetapi masing-masing dapat berapa?
Kue, 700:100=7, keripik, 500:100=5, kepada 100 orang, pelikan memberi masing-masing 7 kue dan 5 keripik.
***
Acara ulang tahun pindahan Pelikan di bawah pohon paling tinggi berlangsung meriah. Kini mereka membawa pulang jatah makanan masing-masing dan tidak ada yang berebut. Pelikan tidak lupa membagi 100 jatah makanan untuk tetangga-tetangganya.
“Wah, kukira aku tidak akan dapat kacang!” Kakek Siput bergumam ketika pulang sambil menyeret sekantong makanan.
“Memangnya Kakek Siput doyan kacang?” Laba-laba mengikuti jalan Kakek Siput.
“Tidak juga, tapi rasanya sangat adil saat Pelikan membuat jatah yang sama pada kita!”
“Jangankan kita teman-temannya, 100 tetangga Pelikan pun dapat kue dan keripik! Pintar sekali ya dia bisa membagi sama rata!”
“Itulah mengapa aku senang berkawan dengan Pelikan, dia ramah, adil dan pintar!”
Pelikan yang sedang terbang kembali dari sarang Nenek Badak itu tersenyum-senyum mendengar percakapan Kakek Siput dan Laba-laba. Meskipun awalnya susah, tetapi akhirya dia bisa memecahkan pembagian ini dengan mudah.
***

selesai.....

Kamis, 08 Januari 2015

Bonsai



Tugas Essay_class di LiNE yang gak jadi dikirim -_-




Aku tua, tapi tak pernah beruban. Aneh sekali banyak yang bilang aku ini botak. Jangankan punya organ yang bisa ditumbuhi rambut. Daun-daun pun tidak lagi sudi bersetubuh dengan tengkorakku ini.
Aku adalah fosil troll jahat di masa lalu. Semasa itu aku bisa berbicara, berpindah tempat, dan bergerak layaknya cacing tanah. Sekarang kakiku tertanam seperti wortel. Banyak mulut berasap yang membaladakan berbagai kisahku. Aku yakin itu semua benar. Jadi dengarkan kisah demi kisah yang akan kuhaturkan padamu.
Di masa peperangan, aku sangat gagah. Rerantingku terdiri dari gumpalan otot penuh karbondioksida. Batangku merupakan kambium ber-DNA raksasa. Oh ya, itu karena dulu saat masih banyak bonsai besar yang lalu lalang di sini, selalu ada perkawinan lintas organisme. Dan aku merupakan bonsai yang beruntung, ber-DNA raksasa. Kami tak terkalahkan oleh ras lain.
Berkat keturunan nenek moyang kami itulah,  hamparan luas ini menjadi wilayah kami. Tak ada yang berani menginjakkan kakinya ke sini hingga windu-windu membosankan membunuh kesadaran kami. Kaumku terlalu bosan berjalan-jalan, saling berbicara atau sekedar bersiul. Kami tertidur terlalu lama. Hingga tak sadar kaki kami telah dipasung oleh bumi.
Di bawah terik mentari, hamparan kering ini seperti pemanggang raksasa yang terjatuh dari neraka. Di sana, di ujung sahara ini, para manusia menemukan surga kami, para bonsai raksasa. Mereka membawa mobil-mobil besar, berbisik-bisik sembari menghidupkan sebuah mesin raksasa mirip pemotong sapi. Awalnya kukira mereka tersesat dan kelaparan, mengira ada sapi kabur ke sini.
Tapi dugaanku seratus persen salah. Tanpa banyak umpat mereka membantai kami seperti mencabut taoge dari kapasnya. Aku tidak tahu apa salah kami. Pemotong itu terlalu bersemangat menebas, memukul, memelintir tubuh-tubuh kami dengan suara decitan mirip orang disembelih. Waktu itu hanya aku yang tidak tertidur. Ketika mesin pemotong sapi raksasa itu menghampiri tubuhku, rerantingku menggoda mereka. Padahal hanya kibasan kecil, mereka langsung memelotot dan berdiri lembek seperti kehilangan tulang belakang. Di  detik berikutnya mereka lari sambil mencret-mencret. Ah, dasar pengecut.
Aku melihat sekitar, mau memamerkan kecerdikanku mengibuli mereka. Tapi ternyata, mereka semua—kaumku—telah tumbang. Hanya aku sendirian yang berdiri di belantara gersang ini. Hanya aku.
Entah kenapa, aku merasa bukan bonsai lagi. Aku raksasa yang ingin sekali memelintir leher-leher manusia. Selama tinggal di sahara ini, baru kali itu aku merasa haus sekali. Ya, aku haus dan hanya bisa dipuaskan oleh darah-darah manusia. Aku merindukan nyanyian tulang hancur dalam kambiumku yang perkasa ini. Aku mendambakan buraian usus manusia menyangkut di reranting gagahku ini.
Sejak itu aku agresif. Aku kehilangan moral sebagai pohon, atau sebagai bonsai raksasa. Daun-daunku pun berbondong-bondong bunuh diri melihat perubahanku itu. Aku seperti psikopat yang merasa akan semakin kuat jika melihat manusia enyah dalam remasan akarku.
Lalu satu-satu kejadian yang telah diceritakan teman-temanmu itu bermula. Dua manusia terbang—aku tidak yakin mereka manusia ataukah mungkin mereka manusia ber-DNA pegasus, karena kulihat pakaiannya sangat aneh seperti datang dari dimensi waktu yang berbeda—yang jelas waktu itu aku girang sekali. Setelah berabad-abad aku menunggu, ada juga sepasang manusia jatuh dari langit. Aku senang bukan main. Aku langsung mengupas kulitnya. Menyesap darahnya. Menyate tubuhnya lalu mengunyahnya tanpa perasaan hina.
Aku ketagihan. Rasanya menyenangkan. Bisa membalas dendamkan kematian teman-temanku yang tak berdosa itu. Selama beratus-ratus tahun, aku terus memangsa manusia yang mendekati tubuhku dengan kurang ajar. Tak pernah berhenti. Tak akan berhenti.
Di musim yang lain, sebuah rumah begitu beraninya tumbuh dewasa di wilayahku. Jendelanya menatapku terus-menerus seolah aku ini maling sendal. Malam hari terasa begitu gerah, aku sudah tidak tahan dengan tatapan jendela itu. Aku tahu ada beberapa manusia pembohong di sana. Manusia yang selalu meyakinkan putrinya aku ini pohon tua mati. Padahal putri mereka benar. Aku hidup. Aku bergerak.
Malam itu juga, setelah putri kecil itu terlelap dalam mimpinya, aku menculik orang tua pembohong mereka dengan mengetuk jendela rimpinya jendela. Bukan salahku jika jendela itu pecah. DNA raksasa, kau ingat? Dan betapa bahagianya aku melihat ketakutan yang berupa-rupa warnanya itu menajam di mata mereka. Pertama ibunya—pembual yang rutin mendongengkan kedustaan kepada putrinya sebelum tidur. Lalu ayahnya, laki-laki pengecut yang tidak mau melindungi istrinya dan malah membangunkan putri kecil manis itu. Bah! Enak sekali rasanya meremas-remas mereka menjadi seperti remahan roti. Oh ya, tak lupa aku memasang kentang hijau bisa bicara yang kusimpan di celah kambiumku untuk menenangkan putri kecil itu jika ia bangun. Dan tentu saja, untuk membuatnya amnesia soal orang tuanya.
Di musim yang lain lagi, ada dua orang berpakaian mirip detektif berani-beraninya menggali tanah di dekat kakiku. Mereka saling berkomunikasi dengan banyak kata yang tidak kupahami. Mereka mengeluarkan peti berisi banyak foto. Mereka saling heran dan menatap satu sama lain. Aku berusaha menajamkan pandanganku yang merenta pada foto-foto itu. Aku seperti mengenali beberapa wajah lalu ….
Aku terbahak! Siapa yang membuat rekayasa foto-foto yang begitu konyol? Itu kan manusia-manusia yang kuremas sampai ke tulang-tulang ekornya!! Aku tertawa sembari memegangi perutku, kalau tidak, eranganku bisa membangunkan tidur siang puteri kecilku itu.
***
Aku memandang ke arah jiwa-jiwa yang kini berdesakan di dalam kambiumku. Sebagian dari mereka adalah manusia-manusia yang kuremas sampai rambut-rambutnya, sebagian lagi adalah manusia yang mengeramatkanku, dan menjadikanku Pohon Harapan. Sekarang mereka tahu, tidak ada pohon harapan. Yang ada hanya pohon pembunuh harapan-harapan segar dari manusia bajingan. []

Selasa, 06 Januari 2015

Jangan Salahkan Hujan



Dahulu kala, hujan dan pelangi adalah dua sahabat yang selalu bersama. Hujan selalu datang lebih dulu, lalu pelangi menyusul. Seringkali hujan yang menunggu pelangi, semakin lama ia menunggu, semakin deras pula butiran air yang dijatuhkannya ke bumi. Baru setelah pelangi muncul, hujan tersenyum kecil lewat rintikan lembut, sebelum keduanya pergi lagi meninggalkan langit bersama-sama. Selalu begitu.
Hujan tak pernah mengeluh mengapa ia harus selalu menunggu. Hujan juga tak pernah meminta pelangi agar muncul lebih dulu. Hujan menikmati masa penantian dengan berjalan-jalan ke bumi dengan rintikan-rintikan kecilnya. Ia bahagia saat melihat butiran airnya mengenai dedaunan, lalu menuruni batangnya, kemudian jatuh dengan lembut ke dalam tanah yang akhirnya diserap akar sebagai nutrisi. Ia bahagia ketika butiran airnya memberi minum anak-anak padi yang menengadah, hingga ia dewasa dan berguna bagi kelangsungan hidup makhluk bumi. Ia bahagia ternyata kedatangannya selalu berguna. Ia terus berjalan-jalan, sembari menunggu pelangi datang.
“Hai hujan! Wah sepertinya sedang bahagia nih.” Sapa pelangi yang muncul tiba-tiba di ufuk timur dengan cantiknya.
“Eh, Hai. Kau sudah datang, ya pelangi?” Hujan yang masih senyum-senyum sendiri terkejut mendengar suara pelangi dari dekatnya.
“Tuh kan kamu tidak tahu aku sudah lama mengamatimu dari sini. Ngomong-ngomong apa yang membuatmu gembira begitu?” Selidik pelangi penasaran.
“Err kamu pasti tidak percaya bahwa aku sangat berguna bagi semua makhluk bumi. Aku merasa bahagia sekali.” Ujar hujan dengan riang gembira.
“Tentu hujan, apalagi kamu selalu sabar menungguku. Coba lihat, anak-anak manusia selalu berteriak-teriak senang saat melihat indahnya tujuh warnaku. Apabila kamu tidak sabar menungguku, tentu mereka tidak akan gembira seperti ini.” Kata pelangi membuat hujan semakin senang. Ia menunjuk ke arah anak-anak kecil yang bersorak sorai “Ada pelangi! Horeee!!” Hujan sangat bahagia sekali.
“Waah aku sangat bersyukur mereka baik kepada kita. Kalau begitu mari kita pergi perlahan agar mereka masih bisa melihat kita saat kita menjauh.” Hujan menggandeng pelangi dan pergi menjauh. Anak-anak manusia masih terlihat senang bahkan saat mereka hanya melihat bayangan samar di langit, diiringi rintikan hujan yang semakin kecil dan lembut. Mereka tidak pernah tahu kemana hujan dan pelangi pergi. Mereka juga tak pernah tahu dari mana hujan dan pelangi datang, mereka hanya merasa senang.
Sampai tibalah saat waktunya hujan turun lagi. Hujan yang terlalu bersemangat untuk membasahi bumi kini tak hanya turun untuk menunggu pelangi datang. Hujan ingin melihat lebih banyak lagi kebahagiaan bumi yang didapatkan dari butiran-butiran airnya. Hujan berkeliling di bumi. Mengamati reaksi setiap sudut bumi setiap kali airnya berjatuhan. Ia menjadi sangat bahagia dan bersemangat untuk menjatuhkan airnya di lebih banyak tempat.
Sehingga ia tiba di atas sungai, hujan sangat terkejut. Saat butiran-butiran airnya berjatuhan kemudian melebur dengan air sungai, mengalir begitu derasnya dalam pagar batu yang cantik, manusia malah melemparinya dengan sampah. Awalnya hujan hanya melihat itu sebagai kelalaian manusia, tapi semakin jauh ia mengikuti aliran sungai, ia melihat semakin banyak sampah yang menggunung, menyumbat aliran sungai yang indah berkelok-kelok. Hujan merasa sedih. Ia merasa dirinya dikhianati oleh mahluk bumi. Manusia mengira air terlalu hebat, bisa mendorong sampah meninggalkan pemukiman mereka lewat aliran sungai. Manusia mengira air bisa meleburkan sampah-sampah bau mereka. Padahal air hanya air, satu bagian dari hujan yang bermanfaat bagi mereka untuk menyuburkan tanaman mereka.
Saking sedihnya, hujan berlari dan menangis. Ternyata manusia tak bisa menghargai air. Ternyata manusia menganggap remeh air. Ia berlari dan terus berlari. Tangisannya yang keras membuat hujan semakin turun deras. Saat ia semakin berlari sambil menangis, jadilah hujan badai di bumi. Ia tak peduli, ia terus berlari sampai..
Bugk!
Hujan menabrak sesuatu. Saat ia membuka matanya, ia terkejut lagi. Hujan menabrak gunung yang gundul.
“Kemana pepohonan yang selalu cantik dengan air hujanku?” Hujan tersedu sambil mengitari gunung. Ia melihat manusia yang menebangi pohon dengan rakusnya. Hujan ingin menangis lagi, tapi kali ini bukan terasa sedih. Hujan ingin marah. Hujan geram dan ingin membalas perbuatan keji manusia-manusia itu. Hujan berfikir, manusia harus diberi pelajaran. Hutan yang penuh dengan pepohonan rindang, yang daunnya bisa dimanfaatkan untuk masakan, batangnya bisa dimanfaatkan untuk perabotan, dan akarnya dapat menyimpan air agar tidak longsor dan banjir itu digunduli dengan sadisnya oleh manusia. Hujan merasakaan wajahnya kian memanas. Ia sudah telanjur marah. Ia ingin manusia itu tahu akibat dari perbuatannya.
Hujan berlari mengelilingi bumi dengan lebatnya. Hujan badai. Airnya menggelora di sungai. Sampah yang menyumbat membuat air hujan yang semakin banyak jatuh itu tak mampu ditampung oleh sungai. Akhirnya sungai meluap. Melahap rumah-rumah. Melahap jembatan, pintu air, memenuhi waduk-waduk, dan membuat seluruh kota terendam banjir. Tapi hujan telanjur tak peduli. Ia marah, semakin marah, dan sangat marah. Bahkan ia tak melihat kedatangan pelangi. Derasnya hujan membuat langit begitu gelap. Pelangi yang indah tak dapat dilihat oleh anak-anak kecil. Pelangi hanya bisa memohon kepada hujan agar mau memaafkan.
“Hujan, tenanglah! Jangan marah begitu..” Ujar pelangi memohon. Namun hujan mengabaikan pelangi. Pelangi tidak tahu apa yang menyebabkan hujan begitu marah.  Pelangi terisak dalam langit gelap. Sekarang giliran ia yang menunggu hujan reda. Tapi sehari, dua hari, tiga hari, seminggu… Hujan tak kunjung reda. Pelangi kecapaian. Ia menyerah menunggu hujan. Ia berjalan linglung meninggalkan langit. Saat dalam perjalanan pulang, ia melihat sendiri apa yang terjadi di bumi. Banjir dimana-mana. 


Kerongkongan pelangi tercekat. Ia tahu mengapa hujan sangat marah. Manusia sangat tidak manusiawi kepada lingkungannya sendiri. Mereka berkata menjaga bumi, tapi malah merusaknya. Pelangi menangis melihat keadaan bumi yang gundul dan penuh sampah. Ia segera berpaling karena tak tega melihat bumi yang sakit parah karena manusia. Sekarang pelangi takut muncul di langit. Ia takut melihat keadaan bumi yang semakin mengerikan. Ia hanya berpesan kepada manusia, “Tolong, jangan salahkan hujan.”

Kulon panjunan, 15 Oktober 2014

Payung Hitati

  Hitati adalah kucing anggora muda yang cantik. Ia mempunyai seorang kakak perempuan, namanya Nades. Meskipun Hitati cantik, dia tidak mempunyai banyak teman. Itu karena sifatnya yang sombong dan tidak pernah mau berbagi dengan orang lain.
  Pada suatu hari, kakek Hitati akan pergi ke luar kota. Ia memberi cucu-cucunya barang peninggalan. Kepada kakak Hitati, Kakek memberi sebuah lampion kamar yang sangat cantik. Kepada Hitati, Kakek memberi sebuah payung merah muda.
  Hitati melihat Nades memasang lampion itu di kamarnya. Hitati merasa kesal.
  “Mengapa kakek memberiku payung jelek ini? Kak Nades saja dapat lampion yang sungguh indah,” gerutunya. Kakek hanya tersenyum mendengarnya.
Hitati bermaksud untuk membuang kekesalannya dengan jalan-jalan. Dia membawa payung pemberian Kakek. Pada saat ia lumayan jauh dari rumah, tiba-tiba angin bertiup kencang. Hujan turun dengan tiba-tiba. Hitati segera membuka payungnya.
  “Kucing Cantik, maukah kau berbagi payung denganku?” tanya seekor kelinci yang berada di seberang jalan. Tubuhnya basah kuyup.
  “Aih, enak saja!” timpal Hitati. Lalu ia berlalu meninggalkan kelinci yang menggigil kedinginan.
  Tak disangka, angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Payung Hitati terbalik, lalu terbang mengikuti angin.
  “Tidak! Tidak! Kembali! Jangan terbang!!” Hitati berteriak ketakutan. Jalanan itu sepi, tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan.
  Angin menerpa apa saja. Hujan semakin lebat. Air mulai naik. Hitati panik. Bulunya yang indah kini mengapung di air. Hitati tidak bisa berenang.
  “Tolong! Tolong!” Ia berteriak-teriak. Tapi tak ada yang mau menolong. Tubuh Hitati terseret banjir. Hujan hampir mereda, tetapi banjir belum juga surut. Hitati menggapai-gapai permukaan air.
  Tiba-tiba Hitati melihat sesuatu berwarna merah muda mengapung di atas air. Ternyata itu payung Hitati. Payung itu terbalik, menyerupai sebuah kapal. Di atasnya ada seekor kelinci yang tadi meminta bantuan kepada Hitati.
  “Kelinci Cantik, tolonglah aku,” rengek Hitati. Dia merasa malu kepada kelinci. Karena kali ini ia harus meminta tolong.
  “Tidak. Kau tidak pernah mau berbagi, bukan?” jawab Kelinci.
  Hitati merasakan pusing yang hebat. Tubuhnya mulai kemasukan air. “Aku minta maaf, Kelinci. Aku berjanji akan berbagi dengan orang lain. Kumohon, tolong aku …,” pinta Hitati.
  Kelinci tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Hitati. Hitati pun selamat.
  “Terimakasih, Kelinci. Aku sangat menyesal. Aku akan menjadi anggora yang baik mulai sekarang.”
  Kelinci tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka mendayung payung itu untuk pulang ke rumah. Mulai saat itu, Hitati selalu berbagi dan berbuat baik kepada orang lain.