♠ terlahir dari rahim imajinasi yang frustasi,
♠ teracuni belerang-belerang rindu,
♠ tewas di belantara aksara sebab gagal menembus media ...

Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

[Pesta Pindahan Pelikan]



Di pedalaman Kalimantan, ada sebuah hutan yang luasnya sepuluh kali lebar bandara. Pohon-pohonnya sangat tinggi bagai mencakar awan, lebat, dan rindang. Di atas sebuah pohon yang paling tinggi, hiduplah seekor burung pelikan kecil. Kau tahu, pelikan tidak seharusnya hidup di Indonesia, apalagi pedalaman Kalimantan. Tetapi, perpindahan burung-burung dari belahan dunia bagian barat terlalu berat baginya. Ia terjatuh, dan akhirnya bertahan hidup di sana.
Hari ini, dia merayakan ulang tahun perpindahannya yang ke-tiga. Wow, betapa serunya saat dia terbang mengelilingi hutan dengan paruh besar penuh kartu undangan.
“Kau akan datang kan, Paman Orangutan?” Ia terbang setelah memberikan kartu undangan pada orangutan di sebuah dahan besar.
“Tentu, jika akan ada banyak pisang!” jawabnya girang.
“Hey, sempatkan dirimu untuk Senin malam yang membahagiakan, Kawan Kutilang!” serunya pada gerombolan kutilang di dahan cemara. Mereka mengangguk dengan cicitan gembira.
“Ah, Bibi Kancil, kamu memakai bando rumput yang indah. Maukah kamu memakainya saat datang ke rumahku nanti?”
“Tupai, kamu pasti suka kacangku!”
“Rusa cantik, pastikan kamu sudah menemukan gaun yang cocok untuk nanti malam!”
“Datang ya, Kakek Siput!”
“Ah, sepupu Laba-laba! Kartu undangan terakhir ini untukmu!”
Begitulah. Pelikan terbang ke sana ke mari menyebar undangan ulangtahun pindahannya ke Indonesia. Setelah habis, ia kembali ke pohonnya. Sekarang ia mulai menghitung kue, keripik, apel, pisang, kacang, dan mentimun yang sudah ia persiapkan. Ia berpikir akan mengadakan pesta yang meriah, dan siapapun boleh mengambilnya. Tetapi terbersit di pikirannya, tidak semua teman-temannya bisa makan sesuai yang diinginkan. Kakek Siput tentu tidak akan kebagian kue jika Tupai dan Kancil makan dengan sangat cepat.
Lalu ia mulai memikirkan untuk membagi semua makanan itu sama rata. Ia punya 700 kue, 500 keripik, 49 apel, 35 pisang, 14 mentimun, dan 175 kacang. Ia harus membagi semuanya agar masing-masing mendapatkan sama banyak.
“Kawanku yang akan hadir lumayan banyak. Siput, kutilang, tupai, laba-laba, orangutan, kancil, rusa … waah tujuh!”
Benar, Pelikan mengundang tujuh teman. Lalu berapa buah yang didapatkan masing-masing? Ia membuat semacam pembagian seperti permainan Congklak (dakon). Ia membuat tujuh balok sebagai simbol tujuh temannya. Lalu mulai membagi mentimun, pisang, dan apel.
   
Akhirnya masing-masing kotak itu terisi dengan 2 mentimun, 5 pisang, dan 7 apel. Tetapi pelikan tidak bisa menggunakan cara ini untuk membagi kacang, terlalu banyak. Ia ingat pernah diajari seorang katak ahli matematika di Rusia; porogapit. Seperti ini:
√(7&175)
Maka pertama, pelikan harus membagi dua angka terdepan (17) dengan angka 7. Dapat hasil 2, sisa 3. Kemudian angka 5 turun di samping angka 3 menjadi angka 35. Lalu dibagi 7 hasilnya 5. Dua angka hasil disandingkan jadinya 25!
Tetapi cara ini terlalu sulit jika dipakai untuk membagi kue dan keripik yang jumlahnya terlalu besar. Rencananya, kue dan keripik ini akan dibagi kepada penghuni hutan sebanyak-banyaknya tapi dengan jumlah yang sama. Tetapi pelikan bingung bagaimana membaginya. Sebuah idepun datang. Dia membuat pohon faktor! Pohon ini menggunaka angka utama sebagai pucuknya, dan angka-angka faktor sebagai cabangnya.
Angka 700 dibagi dengan 2 hasil 350, dibagi 2 lagi hasil 175, dibagi 5 hasil 35, dibagi 5 lagi hasil 7. Kemudian angka-angka faktor tersebut dikumpulkan, 2^2, 5^2, 7.
Sementara untuk keripik, 500 dibagi 2 hasil 250, dibagi 2 hasil 125, dibagi 5 hasil 25, dibagi 5 hasil 5. Faktor-faktornya dikumpulkan: 2^2, dan 5^3.
Kedua kumpulan faktor tersebut dicari faktor-faktor persekutuannya, ketemu 2^2 dan 5^2. 4X25=100. Jadi, kue dan keripik tersebut bisa dibagi kepada 100 orang.
Kini pelikan sudah mempunyai jumlah penghuni hutan yang akan mendapatkan kue dan keripiknya. Tetapi masing-masing dapat berapa?
Kue, 700:100=7, keripik, 500:100=5, kepada 100 orang, pelikan memberi masing-masing 7 kue dan 5 keripik.
***
Acara ulang tahun pindahan Pelikan di bawah pohon paling tinggi berlangsung meriah. Kini mereka membawa pulang jatah makanan masing-masing dan tidak ada yang berebut. Pelikan tidak lupa membagi 100 jatah makanan untuk tetangga-tetangganya.
“Wah, kukira aku tidak akan dapat kacang!” Kakek Siput bergumam ketika pulang sambil menyeret sekantong makanan.
“Memangnya Kakek Siput doyan kacang?” Laba-laba mengikuti jalan Kakek Siput.
“Tidak juga, tapi rasanya sangat adil saat Pelikan membuat jatah yang sama pada kita!”
“Jangankan kita teman-temannya, 100 tetangga Pelikan pun dapat kue dan keripik! Pintar sekali ya dia bisa membagi sama rata!”
“Itulah mengapa aku senang berkawan dengan Pelikan, dia ramah, adil dan pintar!”
Pelikan yang sedang terbang kembali dari sarang Nenek Badak itu tersenyum-senyum mendengar percakapan Kakek Siput dan Laba-laba. Meskipun awalnya susah, tetapi akhirya dia bisa memecahkan pembagian ini dengan mudah.
***

selesai.....

Sabtu, 31 Januari 2015

Bercita-cita malaikat



“Rokib dan Atid bekerja keras sepanjang waktu. Mencatat … mencatat ….”

“Aku ingin jadi mereka!” lantangku. Lalu suasana menghening, pasang-pasang mata yang terbuka mengarah kepadaku. Perlahan tanganku turun dan kepalaku menunduk. Malu.

***

Sebuah pagi yang terbuka dengan hujan, aku dibisiki oleh kakakku, “Kamu memalukan! Tidak ada orang yang bercita-cita menjadi malaikat!”

“Ada!” sergahku cepat, “Ayah juga malaikat, kakak juga!”

Aku berpikir, Ayah yang seorang hakim agung itu juga melakukan pekerjaan malaikat. Dia menjatuhka hukuman seenak jidat. Lalu seorang mausia hidup atau mati ditetukan oleh ketokan palunya. Ya, Ayah seorang malaikat pencabut nyawa.

Aku pikir kakak juga seorang malaikat. Dia bisa memberi rezeki pada orang yang ia suka. Membuat orang hutang, atau meminjaminya, atau memberikannya sukarela. Kakak bisa mendapatkan keuntungan yang luar biasa, tapi ia kembali memberi orang-orang rezeki. Aku rasa kakak memang seorang malaikat pemberi rezeki.

“Geblek! Di mana otakmu?!” Ia bangkit dari kursi berlenga meja. Kasar. Sampai kopi di atasnya bergoyang. “Ayah dan kakak ini manusia bukan malaikat! Carilah cita-cita yang benar! Jadilah orang sukses!” Ia menyibak tirai pintu lalu lenyap di baliknya.

Aku terpekur. Apakah menjadi malaikat adalah cita-cita yang salah? Lalu kenapa Tuhan menciptakan mereka, para malaikat, dan berjanji tidak membuatnya malakukan hal yang salah? Apakah Tuhan yang salah?

bersambung

kasur, 31 jan 2015

Selasa, 06 Januari 2015

Jangan Salahkan Hujan



Dahulu kala, hujan dan pelangi adalah dua sahabat yang selalu bersama. Hujan selalu datang lebih dulu, lalu pelangi menyusul. Seringkali hujan yang menunggu pelangi, semakin lama ia menunggu, semakin deras pula butiran air yang dijatuhkannya ke bumi. Baru setelah pelangi muncul, hujan tersenyum kecil lewat rintikan lembut, sebelum keduanya pergi lagi meninggalkan langit bersama-sama. Selalu begitu.
Hujan tak pernah mengeluh mengapa ia harus selalu menunggu. Hujan juga tak pernah meminta pelangi agar muncul lebih dulu. Hujan menikmati masa penantian dengan berjalan-jalan ke bumi dengan rintikan-rintikan kecilnya. Ia bahagia saat melihat butiran airnya mengenai dedaunan, lalu menuruni batangnya, kemudian jatuh dengan lembut ke dalam tanah yang akhirnya diserap akar sebagai nutrisi. Ia bahagia ketika butiran airnya memberi minum anak-anak padi yang menengadah, hingga ia dewasa dan berguna bagi kelangsungan hidup makhluk bumi. Ia bahagia ternyata kedatangannya selalu berguna. Ia terus berjalan-jalan, sembari menunggu pelangi datang.
“Hai hujan! Wah sepertinya sedang bahagia nih.” Sapa pelangi yang muncul tiba-tiba di ufuk timur dengan cantiknya.
“Eh, Hai. Kau sudah datang, ya pelangi?” Hujan yang masih senyum-senyum sendiri terkejut mendengar suara pelangi dari dekatnya.
“Tuh kan kamu tidak tahu aku sudah lama mengamatimu dari sini. Ngomong-ngomong apa yang membuatmu gembira begitu?” Selidik pelangi penasaran.
“Err kamu pasti tidak percaya bahwa aku sangat berguna bagi semua makhluk bumi. Aku merasa bahagia sekali.” Ujar hujan dengan riang gembira.
“Tentu hujan, apalagi kamu selalu sabar menungguku. Coba lihat, anak-anak manusia selalu berteriak-teriak senang saat melihat indahnya tujuh warnaku. Apabila kamu tidak sabar menungguku, tentu mereka tidak akan gembira seperti ini.” Kata pelangi membuat hujan semakin senang. Ia menunjuk ke arah anak-anak kecil yang bersorak sorai “Ada pelangi! Horeee!!” Hujan sangat bahagia sekali.
“Waah aku sangat bersyukur mereka baik kepada kita. Kalau begitu mari kita pergi perlahan agar mereka masih bisa melihat kita saat kita menjauh.” Hujan menggandeng pelangi dan pergi menjauh. Anak-anak manusia masih terlihat senang bahkan saat mereka hanya melihat bayangan samar di langit, diiringi rintikan hujan yang semakin kecil dan lembut. Mereka tidak pernah tahu kemana hujan dan pelangi pergi. Mereka juga tak pernah tahu dari mana hujan dan pelangi datang, mereka hanya merasa senang.
Sampai tibalah saat waktunya hujan turun lagi. Hujan yang terlalu bersemangat untuk membasahi bumi kini tak hanya turun untuk menunggu pelangi datang. Hujan ingin melihat lebih banyak lagi kebahagiaan bumi yang didapatkan dari butiran-butiran airnya. Hujan berkeliling di bumi. Mengamati reaksi setiap sudut bumi setiap kali airnya berjatuhan. Ia menjadi sangat bahagia dan bersemangat untuk menjatuhkan airnya di lebih banyak tempat.
Sehingga ia tiba di atas sungai, hujan sangat terkejut. Saat butiran-butiran airnya berjatuhan kemudian melebur dengan air sungai, mengalir begitu derasnya dalam pagar batu yang cantik, manusia malah melemparinya dengan sampah. Awalnya hujan hanya melihat itu sebagai kelalaian manusia, tapi semakin jauh ia mengikuti aliran sungai, ia melihat semakin banyak sampah yang menggunung, menyumbat aliran sungai yang indah berkelok-kelok. Hujan merasa sedih. Ia merasa dirinya dikhianati oleh mahluk bumi. Manusia mengira air terlalu hebat, bisa mendorong sampah meninggalkan pemukiman mereka lewat aliran sungai. Manusia mengira air bisa meleburkan sampah-sampah bau mereka. Padahal air hanya air, satu bagian dari hujan yang bermanfaat bagi mereka untuk menyuburkan tanaman mereka.
Saking sedihnya, hujan berlari dan menangis. Ternyata manusia tak bisa menghargai air. Ternyata manusia menganggap remeh air. Ia berlari dan terus berlari. Tangisannya yang keras membuat hujan semakin turun deras. Saat ia semakin berlari sambil menangis, jadilah hujan badai di bumi. Ia tak peduli, ia terus berlari sampai..
Bugk!
Hujan menabrak sesuatu. Saat ia membuka matanya, ia terkejut lagi. Hujan menabrak gunung yang gundul.
“Kemana pepohonan yang selalu cantik dengan air hujanku?” Hujan tersedu sambil mengitari gunung. Ia melihat manusia yang menebangi pohon dengan rakusnya. Hujan ingin menangis lagi, tapi kali ini bukan terasa sedih. Hujan ingin marah. Hujan geram dan ingin membalas perbuatan keji manusia-manusia itu. Hujan berfikir, manusia harus diberi pelajaran. Hutan yang penuh dengan pepohonan rindang, yang daunnya bisa dimanfaatkan untuk masakan, batangnya bisa dimanfaatkan untuk perabotan, dan akarnya dapat menyimpan air agar tidak longsor dan banjir itu digunduli dengan sadisnya oleh manusia. Hujan merasakaan wajahnya kian memanas. Ia sudah telanjur marah. Ia ingin manusia itu tahu akibat dari perbuatannya.
Hujan berlari mengelilingi bumi dengan lebatnya. Hujan badai. Airnya menggelora di sungai. Sampah yang menyumbat membuat air hujan yang semakin banyak jatuh itu tak mampu ditampung oleh sungai. Akhirnya sungai meluap. Melahap rumah-rumah. Melahap jembatan, pintu air, memenuhi waduk-waduk, dan membuat seluruh kota terendam banjir. Tapi hujan telanjur tak peduli. Ia marah, semakin marah, dan sangat marah. Bahkan ia tak melihat kedatangan pelangi. Derasnya hujan membuat langit begitu gelap. Pelangi yang indah tak dapat dilihat oleh anak-anak kecil. Pelangi hanya bisa memohon kepada hujan agar mau memaafkan.
“Hujan, tenanglah! Jangan marah begitu..” Ujar pelangi memohon. Namun hujan mengabaikan pelangi. Pelangi tidak tahu apa yang menyebabkan hujan begitu marah.  Pelangi terisak dalam langit gelap. Sekarang giliran ia yang menunggu hujan reda. Tapi sehari, dua hari, tiga hari, seminggu… Hujan tak kunjung reda. Pelangi kecapaian. Ia menyerah menunggu hujan. Ia berjalan linglung meninggalkan langit. Saat dalam perjalanan pulang, ia melihat sendiri apa yang terjadi di bumi. Banjir dimana-mana. 


Kerongkongan pelangi tercekat. Ia tahu mengapa hujan sangat marah. Manusia sangat tidak manusiawi kepada lingkungannya sendiri. Mereka berkata menjaga bumi, tapi malah merusaknya. Pelangi menangis melihat keadaan bumi yang gundul dan penuh sampah. Ia segera berpaling karena tak tega melihat bumi yang sakit parah karena manusia. Sekarang pelangi takut muncul di langit. Ia takut melihat keadaan bumi yang semakin mengerikan. Ia hanya berpesan kepada manusia, “Tolong, jangan salahkan hujan.”

Kulon panjunan, 15 Oktober 2014

Payung Hitati

  Hitati adalah kucing anggora muda yang cantik. Ia mempunyai seorang kakak perempuan, namanya Nades. Meskipun Hitati cantik, dia tidak mempunyai banyak teman. Itu karena sifatnya yang sombong dan tidak pernah mau berbagi dengan orang lain.
  Pada suatu hari, kakek Hitati akan pergi ke luar kota. Ia memberi cucu-cucunya barang peninggalan. Kepada kakak Hitati, Kakek memberi sebuah lampion kamar yang sangat cantik. Kepada Hitati, Kakek memberi sebuah payung merah muda.
  Hitati melihat Nades memasang lampion itu di kamarnya. Hitati merasa kesal.
  “Mengapa kakek memberiku payung jelek ini? Kak Nades saja dapat lampion yang sungguh indah,” gerutunya. Kakek hanya tersenyum mendengarnya.
Hitati bermaksud untuk membuang kekesalannya dengan jalan-jalan. Dia membawa payung pemberian Kakek. Pada saat ia lumayan jauh dari rumah, tiba-tiba angin bertiup kencang. Hujan turun dengan tiba-tiba. Hitati segera membuka payungnya.
  “Kucing Cantik, maukah kau berbagi payung denganku?” tanya seekor kelinci yang berada di seberang jalan. Tubuhnya basah kuyup.
  “Aih, enak saja!” timpal Hitati. Lalu ia berlalu meninggalkan kelinci yang menggigil kedinginan.
  Tak disangka, angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Payung Hitati terbalik, lalu terbang mengikuti angin.
  “Tidak! Tidak! Kembali! Jangan terbang!!” Hitati berteriak ketakutan. Jalanan itu sepi, tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan.
  Angin menerpa apa saja. Hujan semakin lebat. Air mulai naik. Hitati panik. Bulunya yang indah kini mengapung di air. Hitati tidak bisa berenang.
  “Tolong! Tolong!” Ia berteriak-teriak. Tapi tak ada yang mau menolong. Tubuh Hitati terseret banjir. Hujan hampir mereda, tetapi banjir belum juga surut. Hitati menggapai-gapai permukaan air.
  Tiba-tiba Hitati melihat sesuatu berwarna merah muda mengapung di atas air. Ternyata itu payung Hitati. Payung itu terbalik, menyerupai sebuah kapal. Di atasnya ada seekor kelinci yang tadi meminta bantuan kepada Hitati.
  “Kelinci Cantik, tolonglah aku,” rengek Hitati. Dia merasa malu kepada kelinci. Karena kali ini ia harus meminta tolong.
  “Tidak. Kau tidak pernah mau berbagi, bukan?” jawab Kelinci.
  Hitati merasakan pusing yang hebat. Tubuhnya mulai kemasukan air. “Aku minta maaf, Kelinci. Aku berjanji akan berbagi dengan orang lain. Kumohon, tolong aku …,” pinta Hitati.
  Kelinci tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Hitati. Hitati pun selamat.
  “Terimakasih, Kelinci. Aku sangat menyesal. Aku akan menjadi anggora yang baik mulai sekarang.”
  Kelinci tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka mendayung payung itu untuk pulang ke rumah. Mulai saat itu, Hitati selalu berbagi dan berbuat baik kepada orang lain.

Gemintang



Rasi orion menyalami pandanganku yang tertuju pada langit. Mungkin juga menyalami pandangannya, bahkan memeluknya. Dapat kulihat dengan jelas dari sini. Sneaker bututnya menopang tubuh maha indah yang mengenakan sweater garis dan rompi jins selutut. Rambut yang terikat karet warna-warni melambai menyahut laluan bis di dekatnya. Kepalanya masih mendongak, bahkan saat motor-motor memperingatkannya dengan klakson. Dia masih kokoh di tengah-tengah persimpangan.
Kepalaku mengetuk pinggiran tembok saat mengintip ritual sucinya. Dulu sekali, ia pernah bilang, kita perlu memperhatikan bintang-bintang agar kita tahu bahwa kita tidak sendirian. Sangat mirip dengan kata-kata C.S Lewis, “Kita membaca untuk mengetahui bahwa kita tidak sendirian.”
Waktu itu aku tertegun. Air mata yang sebelumnya merintik di celanaku seketika berhenti.
“Ear:i’an i’ang-i’ang. r:asa’an ah’a i’a i’ak senir:i’an.”[1] Telunjuknya menuding langit berbintang, tetapi matanya mengawasi rerintik terakhir di pipiku. Setelah ia memastikan aku memahami kata-katanya, ia mengizinkanku menjilat eskrim cokelat dalam genggamannya.
Dia benar, aku tidak sendirian. Orang-orang dulu menjauh karena aku korengan, udik, kerempeng dan bodoh, sekarang aku tahu ada yang lebih tidak punya teman. Nirmala, iya, perempuan yang sedang kupandangi dari kegelapan gang ini.
***
Ada kenangan sesakit duri milik Nirmala yang aku bersedia mengingatnya. Saat pukul delapan di atas bangku SD dengan dongeng terbaik yang ia tulis sendiri dari pensil tumpulnya, Nirmala mendapat kata-kata sengeri tusukan pisau berkarat.
“Mala, dongeng kamu bagus. Sangat bagus. Tetapi saat kamu bacakan, rasanya seperti gesekan biola rusak. Mungkin kamu bisa memilih menjadi tukang sol sepatu dari pada pendongeng.”
Riuh gumam teman-teman menyambut kalimat destruktif Ibu guru yang saat ini telah menjadi almarhumah. Jemariku meraba jemarinya yang diselorohkan ke laci. Berusaha memberi genggaman terhangat untuk menguatkannya. Selalu kuingat wajah Nirmala yang merah padam, namun tetap menampilkan gigi kelinci dalam seutas senyumnya. Aku tahu, Nirmala tak bisa lancar mengucapkan huruf vokal, tapi bukan berarti ada yang bisa semena-mena menebas mimpinya!
Nirmala biasa mendapatkan ejekan dari siapapun yang ia ajak bicara. Tetapi siapa yang mampu menendang gunung kokoh di ruang hatinya?
Termarginalkan, adalah hal yang membuat Nirmala menyukai buku. Menurutnya, tidak masalah bagi buku untuk berbicara pada siapa saja, termasuk gadis sepertinya. Ia ingin mencari semua referensi tentang segala hal dari buku. Bahkan, ia sering mengutipnya untukku. Misalnya saat aku bertanya, mengapa ketika memperhatikan bintang, ia suka berdiri di persimpangan? Aku susah mengingat kalimat versi Nirmala, jadi kutulis menurut versiku. Kira-kira seperti ini.
“Ling, aku menyukai buku. Dia bisa berbicara pada siapa saja meskipun dia tidak punya suara. Aku masih punya suara, Ling, meskipun sangat buruk, tetapi aku ingin berbicara kepada siapa saja.”
“Lalu apa hubungannya dengan berdiri di persimpangan seperti ini?” tanyaku saat ia khusyu’ menengadah, sementara aku di sampingnya berdiri ketakutan pada klakson bis dan mobil-mobil.
“Kata Edwin P. Whipple, buku adalah mercusuar yang berdiri di tepi samudra waktu yang luas. Aku ingin menjadi buku, Ling,” Nirmala menurunkan kepalanya. “Tetapi yang lebih ekstrim.” Kedipnya nakal.
Saat itu sebuah kontainer mendekat, jadi terpaksa kubalas kedipannya dengan tarikan kasar di pergelangannya. “Sudah malam, ayo pulang!” aku menyeretnya di pinggir pertokoan yang mulai tutup. Kaki Nirmala sampai terseok-seok mengikuti gerakan cepatku. “Ling! Astaga, Ling, pelan-pelan! Aduuh.. Angling Dharma!!” aku tertawa nakal sembari menatap lurus ke depan.
Lucu rasanya masih bisa tertawa mengingat kejadian ketika kami masih kanak-kanak, saat sekarang kami telah berjauhan. Nirmala, aku yakin dia tak pernah dibuat kesepian oleh buku, bintang-bintang..
“Nirma, aku harus kuliah di Semarang.” ujarku setahun lalu. Rautnya tak menunjukkan kesedihan. Tetapi gigi kelincinya disembunyikan dalam katupan bibir tipisnya. “Ini, kau bisa menggunakannya untuk mengembangkan Rumah Tualang Ilmu.” Kuletakkan Buku Sekolahnya Manusia karya Munif Chatib di pangkuannya. Kupikir ia akan senang, bisa membacanya untuk sekolah anak jalanan yang kami kelola, tetapi ekspresinya hanya berupa lirikan sebentar. Kemudian matanya kembali menatapku.
“Ling, Abraham Lincoln berkata, sahabat baik bagiku adalah seseorang yang menghadiahiku buku yang belum pernah kubaca.” Ia tersenyum, masih menyembunyikan gigi kelincinya.
Setahun telah merubah segalanya. Rumah Tualang Ilmu kutemukan rata dengan tanah. Ada papan di sampingnya dengan tulisan, “DILARANG MENDIRIKAN BANGUNAN ATAU BERJUALAN DI SEPANJANG/DEPAN TANAH MILIK KELUARGA H. MAIMUN.” Sesak menyeruduk alveolus yang bergelantungan di dadaku. Sebuah tinju besar seolah menghantam bagian terdalam hatiku. Bagaimana dengan Nirmala?
***
Perempuan yang sedari tadi kupandangi kini telah menurunkan kepalanya. Sekarang ia berjalan meloncat-loncat menuju salah satu café di jajaran ruko di belakangnya. Lampu pintu berkedip-kedip menandakan ada seseorang masuk. Ia duduk di meja nomor 6 dan memesan dua eskrim cokelat.
Aku memalingkan muka dari kaca café. Dua eskrim? Apakah ia sedang ada janji dengan seseorang? Apakah itu pacarnya? Desis kekhawatiran membisiki kepalaku. Apakah Nirmala sudah punya pacar?
Nyaris saja aku mengintipnya lagi saat sebuah tangan berbalut sweater bergaris sebatas pergelangan menutupi pandanganku. Kemudian gigi kelinci yang demikian cemerlang menyilaukan mataku. Nirmala berdiri di depan pintu masuk, membuat lampu di atasnya mengedip tanpa henti.
“Mau es’r:im o’ak?” Nirmala menyeret tas punggungku ke dalam café tanpa menunggu persetujuan dariku.
“Kau tahu aku disini?” pupilku membesar 45% dari biasanya. Melihatnya baik-baik saja-bahkan luar biasa-seperti ini membuat moodku terisi ulang pasca kesedihan yang mendalam atas nasib Rumah Tualang Ilmu.
“A’aima’a i’ak? A’u sem’ak meiak sayap-sayap’u er’iau, I’u per:a’a ‘au ak a’uh ar:i’u”[2] Nirmala pura-pura menoleh punggungya seolah-olah ada sepasang sayap di sana. Ia menggeser salah satu gelas eskrim ke hadapanku.
“Memangnya kita Tinkerbell dan Periwinkle?” kataku membalas guyonannya.
“Ahahaha. I’ak ok. A’i a’u iak ‘a’u me’e’ap-e’ap ‘i ang.”[3] Nirmala terkekeh, lalu menjilat eskrimnya dengan sadis. Sesekali sendoknya mengaduk-aduk gelas di depannya yang semakin kosong. Aku memperhatikannya terlalu asyik hingga gelasku sendiri nyaris tak tersentuh.
“A’o ak mau, iar: au a’a yang a’isin unya Ying.”[4] celetuknya tanpa melihatku, bahkan ia asyik menjilati sendoknya.
“Yee, jarang-jarang tau ditraktir Nirmala kayak gini.” cepat-cepat kukosongkan gelasku. “Taraaa.. habis!” Aku meninju udara di atasku, dengan juluran lidah ke arah Nirmala yang sudah menganggur dari tadi.
“E’ima ’asih, Ying, u’ah mau a’isin e’r:im’a.”[5] Nirmala menopangkan dua kepalan kembarnya di dagu. Poni tipis yang berjatuhan di dahinya bergerak-gerak saat ia berbicara, membuat wajahnya terlihat sangat hidup, lucu, penuh atraksi. Apabila orang lain melihatnya pasti tidak akan mengira ia cacat dalam berbicara. Semangatnya sungguh menyala. Beginilah alasan kenapa Nirmala selalu kukagumi, selalu kurindui.
***
Aku menendang kerikil yang mencuat dari jalanan. Gigiku bergemeretak. Betapa aku telah melakukan sesuatu yang sangat kejam bagi Nirmala. Semenjak aku pergi, tak ada yang segan kepadanya lagi. Sebagian besar mengejek kelemahannya. Sebagian lagi menyerah ketika berbicara dengannya.
“Nak Angling, kamu itu sudah dianggap sebagai penerjemahnya Nirmala. Ibu berterima kasih kalau kamu mau jadi orang kedua yang menjaga Nirmala setelah ibu.” Kalimat Ibu Nirmala bagai wasiat yang kuabaikan. Baru dua tahun beliau meninggal, tetapi aku sudah mengkhianati kepercayaannya. Ingin kusalahkan beasiswa yang memisahkanku dari Nirmala. Ingin kusalahkan segala-gala yang membuatku jadi pergi saat itu.
Aku menengadah, berkali-kali meminta maaf pada bintang karena malam ini kubuat Nirmala menangis. Kupaksa ia menceritakan hal terberat selama aku pergi. Dari penuturannya kubayangkan Rumah Tualang Ilmu diserang beberapa laki-laki yang membawa belati di balik wajah ramah mereka. Tiang-tiangnya yang dulu kubangun dengan kayu bekas pemberian pak RT dipotong-potong, kemudian dibakar. Mereka memanggang ayam dan membakar jagung di atasnya. Saat itu Nirmala melawan, mengoceh dengan kalimat tidak jelasnya. Salah seorang pria berkupluk mengikatnya di batang pohon dan menutup mulutnya menggunakan lakban. Katanya, suara Nirmala lebih buruk dari ocehan anak tokek.
Nirmala menendang-nendang pria itu. Berusaha menjerit dengan segala kata yang bisa merembes dari sekapan lakban. Seorang lagi tidak tahan dengan perlawanan Nirmala. Dia mendekati Nirmala dengan sebilah belati. Karena ia tak diijinkan melukai siapapun, maka pria itu menjambak rambut Nirmala. Menyesek beberapa petak dengan tidak rata. Nirmala tak hanya diam, ia menendang perut, kaki bahkan selangkangan pria itu. Sampai akhirnya pemilik tanah itu datang, membubarkan pesta penderitaan bagi Nirmala tanpa mengucap sepatah katapun pada Nirmala. Bahkan Nirmala ditinggalkan tanpa dilepaskan dari ikatannya. Belakangan baru kutahu, H. Maimun adalah suami dari almarhumah Ibu guru yang pernah menorehkan kenangan buruk pada masa lalu Nirmala.
Aliran darahku terasa panas, menderas tiba-tiba. Bagaimana bisa aku tidak ada disana? Bagaimana bisa Nirmala disakiti, direndahkan bahkan dipermainkan sementara aku tidak tahu?
Tadi Nirmala sempat melepas ikatan kuncirnya, memperlihatkan kepadaku sesekan-sesekan kejam yang merusak rambut indahnya. Sungguh, aku tidak kuasa melihatnya.
“Au i’a’a in’ang, Ying.”[6] isaknya terakhir kali, saat kusalahkan diriku dihadapan Nirmala.
***
Malam-malam liburan di Kudus kuhabiskan untuk memeluk bintang di persimpangan bersama Nirmala. Ia yang telah menjadi kakak asuh di sebuah panti asuhan membuat jam-jam kebersamaan kami sedikit tersita. Sehingga sisanya, kami gunakan untuk menjarah ilmu di perpustakaan umum. Bahkan Nirmala sampai menginap disana saking lelahnya. Kali ini Nirmala berkeliling ke setiap sudut rak, memperhatikan penataan bukunya.
“Mau jadi petugas perpus ya, Bu?” ledekku saat Nirmala menghitung lebar keramik yang dihabiskan oleh sepasang rak. Keisenganku hanya dijawab oleh cengiran gigi kelincinya, sementara ia masih serius meneliti segala hal yang berkaitan dengan ruang baca.
Sampai saat ia kelelahan, ia memutuskan untuk merebahkan pantatnya di kursi berlengan yang terlihat istimewa di sudut meja. Tangannya membentangkan Matilda karya Road Dahl hingga menutupi hidungnya.
“Tumben baca Road Dahl cetakan lama?”
“Ar:e’a a’u er:i’i’r:asi sama yang Om Oa’ Ahl i’ang, sing’ir:’a’ah e’evisimu! I’em’a’nya a’i amu a’a’ memasang r:ak u’u yang a’ik.”[7]
Aku yang faham maksud Nirmala dari quotes Road Dahl tersebut cepat-cepat bertanya, “Mau nyingkirin teve panti asuhan?”
Nirmala menjawabnya dengan kedipan dan senyum gigi kelinci, aku melongo.
***
“Au ingi a’i e’ongeng, Ying.”[8]
Nirmala menunduk. Lututnya dipeluk. Di pinggir deras sungai tambak ia mengisak. Aku berdiri di dekatnya sembari melemparkan kerikil-kerikil pipih yang bisa meloncat dua-tiga kali di air. Sudah lama aku mengetahui cita-cita Nirmala itu, dan selama itulah aku khawatir Nirmala akan down ketika menyadari kekurangannya tak membaik, bahkan menjadi cacat fatal.
“Lalu apa yang kamu resahkan, Nir?”
“Uma amu yang faham a’a-a’a’u, Ying.”[9]
Tentu saja aku faham yang ia maksud. Nirmala tak sungguh-sungguh mempermasalahkan keadaannya, ia hanya berkeberatan atas kepergianku untuk kembali kuliah. Sebenarnya begitupun juga aku. Aku mengkhawatirkan Nirmala mengalami tahun yang buruk lagi gara-gara ketidakhadiranku di sisinya. Tetapi aku telah berjanji pada Nirmala sebelum aku berangkat dulu, bahwa aku sudah jadi sarjana, ketika melamar dan menikahinya nanti.
Kuputuskan untuk membuat pernyataan sederhana untuk menguatkannya, yang entah bertahan sampai berapa lama.
“Helen Keller yang buta bisu tuli saja bisa menjadi orang sukses, mengembangkan Braille untuk para tuna netra, motivator dunia. Keadaanmu jauh lebih baik dari Keller, Nirmala.” kurengkuh bahu Nirmala yang tertutup blus merah hati dan tali rompi jins biasanya. Seperti saat ia mendengar kata-kata ibu guru almarhumah dulu, lagi-lagi aku berusaha mengaliri tubuhnya dengan kekuatan positifku.
“Nirmala, jika dunia tak bisa mendengar suaramu, maka tulislah. Jangan biarkan hidupmu menjadi dongeng yang tak terbukukan.”
***
Tiga tahun berlalu, aku sudah menjadi sarjana. Dan hari ini aku berkunjung ke panti asuhan tempat Nirmala menjadi kakak asuh. Tak main-main, rak buku menjulang sampai ternit. Untuk menjangkaunya harus menggunakan tangga kayu yang sudah didesain aman untuk anak-anak. Kata Nirmala, semua ini didapatkan melalui pengadaan fasilitas oleh pemerintah dari proposal yang ia buat.
Kurang lebih ada sepuluh ribu buku dalam ruangan yang lumayan sempit. Setiap rak mempunyai kode untuk masing-masing jenis buku. Bukannya digit angka tetapi kata-kata santun untuk melambangkan jenis buku. BERIMAN untuk buku konsep keagamaan, BERTAQWA untuk buku implementasi keagamaan, BERBAKTI untuk buku hubungan dengan orang lain, BERKARAKTER untuk buku pengembangan pribadi dan sebagainya.
Rak-rak ditata bagai labirin yang setiap lewat akan merasakan sensasi hidup dalam kepungan buku. Di tiap sudut perpustakaan disediakan katalog dan computer. Sementara itu di sisi-sisi perpustakaan terdapat tempelan-tempelan kertas A4 berisi coretan dongeng karya anak-anak. Kata Nirmala, setiap anak boleh melanjutkan ceritanya dengan menulisnya di atas kertas kemudian menempelkannya disini. Jadi semacam dongeng berantai yang apabila telah mencapai ending akan dibukukan. Kata Nirmala, sudah ada sebelas buku dongeng berantai. Sementara Nirmala, telah mendapatkan penghargaan MURI sebagai pemberi fasilitas dongeng berantai bagi anak-anak yatim piatu di panti asuhan ini.
 Di hamparan ternit terpasang kata mutiara dari beberapa ilmuwan, yang sebagian besar tentu saja, sudah pernah kudengar lewat bibir mungil Nirmala dahulu. Tetapi mataku tertuju pada satu quotes yang namanya terdengar ganjil.
“Menulislah, jangan biarkan hidupmu menjadi dongeng yang tak terbukukan.” – D. Malangling
Malangling?
Ternit yang menjadi alas kata-kata itu berpola anak panah, menunjuk pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. Kulihat sebuah anjungan di lantai dua itu terpagari lampu-lampu berbentuk bintang.
Dan gadis berompi jins itu berdiri di pinggirnya, lagi-lagi menengadah ke langit.
“Nirma?”
“E’ang’ah, Ying. Au e’ang i’e’uk i’ang.”[10]
***

[1] Perhatikan bintang-bintang, rasakan bahwa kita tidak sendirian.
[2] Bagaimana tidak, aku sempat melihat sayap-sayapku berkilau, itu pertanda kau tak jauh dariku.
[3] Tidak kok, tadi aku liat kamu mengendap-endap di gang.”
[4] Kalo tidak mau biar aku saja yang habisin punya Ling.
[5] Terimakasih, Ling, sudah mau ngabisin eskrimnya.”
[6] Aku dijaga bintang, Ling.
[7] Karena aku terinspirasi sama yang Om Road Dahl bilang, singkirkanlah televisimu! Ditempatnya nanti kamu akan memasang rak buku yang cantik.
[8] Aku ingin jadi pendongeng, Ling.
[9] Cuma kamu yang faham kata-kataku, Ling
[10] Tenanglah, Ling, aku sedang dipeluk Bintang.